TAMBANG TODAY

TAMBANG, 01 Agu 2013 | 09.01

Indonesia Perlu Dorong Industri Pendukung Sektor Migas

Egenius Soda
egenius@majalahtambang.com

Jakarta-TAMBANG.Dalam industri migas yang selalu ramai dibicarakan adalah nasionalisasi dimana pihak nasional menjadi pengelola. Namun untuk sampai ke sana tentu tidak mudah karena banyak hal yang menjadi pendukungnya. Oleh karenanya salah satu cara yang dapat meningkatkan kontribusi sektor migas bagi negara tidak lain dengan mendorong tumbuhnya Industri pendukung dalam negeri. Hal ini disampaikan Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Rudi Rubiandini dalam wawancara khusus dengan Majalah TAMBANG beberapa waktu lalu.

“Harusnya jangan nasionalisasi tetapi indonesianisasi seperti Hugo Chaves menasionalisasi industri migasnya tetapi bukan mengusir melainkan dengan membeli sahamnya sampai menjadi milik nasional semuanya. Tetapi kok bisa membeli karena Venezuela mempunyai cadangan 360 miliar sementara Indonesia hanya memiliki cadangan 3,6 miliar. Kalau cadangan kita banyak tidak perlu tunggu Hugo Chaves, kasih saja ke Rudi Rubiandini bisa dilakukan,”jelas Rudi.

Menurut Pakar perminyakan ini, Indonesianisasi yang dimaksudkan adalah mengenakan sepatu safety buatan idnonesia, baju werpak buatan Indonesia, topi buatan Indonesia, kacamata sampai alat bor semua buatan Indonesia. Sampai teknologi juga berasal dari Indonesia.

Bisa saja yang menjadi operator adalah perusahaan asing seperti Total E&P, Vico, CNOOC, tetapi semuanya menggunakan peratalan dan teknologi semuanya berasal dari Indonesia tentu akan lebih besar manfaatnya. Sejauh ini dengan menggunakan sistem PSC, dari dari 100 persen pendapatan migas di perusahaan, 60 persen sudah dikuasai Indonesia, kenapa masih dikatakan dikuasai asing. Kemudian 25 persen digunakan untuk membiayai operasi dan 15 persen untuk perusahaan yang memiliki modal.

“Berarti jika kita sukses melakukan Indonesianisasi maka yang 25 persen itu juga akan kembali ke dalam negeri sehingga menjadi 85 persen. Perusahaan yang mengelarkan uang untuk mendapatkan cadangan dan kemudian melakukan ekspoitasi hanya mendapat 15 persen. Hebat khan kita,”kata Rudi.

Oleh karenanya yang paling penting saat ini adalah mendorong agar segala aspek mulai dari perkakas, Sumber daya manusia, teknologi yang digunakan di Industri migas nasional berasal dari Indonesia. Oleh karenanya diharapkan Menteri perindustrian mendukung upaya Indonesianisasi dengan membangun industri pendukung sektor migas dalam negeri. Mulailah dari apa yang dipakai sehari-hari dengan semangat Indonesianisasi.

Rudi sebagai profesor minyak memang dikenal sebagai orang yang sangat berkomitmen pada pengembangan industri minyak dan gas nasional. Tahun ini dicanangkannya sebagai tahun pengeboran. Menurutnya ini mutlak dilakukan untuk menambah cadangan minyak dan gas nasional. “Kalau kita lakukan pengeboran hari ini tidak serta merta akan kita petik hasil. Buah dari aktivitas pengeboran yang kita lakukan saat ini akan dinikmati oleh anak cucu kita di masa mendatang,”tandas Rudi.

Pria yang terkenal ramah dengan awak media ini beberapa waktu lalu diterpa isu tidak sedap yang menyebutnya berselingkuh. Namun salah satu orang terdekat Rudi saat dimintai tanggapannya dengan tegas membantah isu tersebut. Menurutnya ia telah menanyakan hal itu pada Rudi dan ia dengan tegas membantahnya. Menurut sumber tersebut, isu ini segaja dihembuskan mereka yang tidak suka pada Mantan Wakil Menteri ESDM ini. “Isu tersebut sengaja dihembuskan mereka yang tidak suka Beliau. Lihat saja mulai isu perselingkungan yang tidak jelas kemudian malah melebar pada tuntutan membubarkan SKK Migas. Apa itu,”jelas sumber Majalah TAMBANG yang enggan disebutkan namanya tersebut.

Terlepas dari semua itu, visinya dalam mendukung ketahanan energi nasional patut didukung. Untuk mengetahui lebih jauh terkait pengelolaan migas nasional dan visinya mewujudkan ketahanan energi silahkan baca interview Majalah TAMBANG dengan Rudi Rubiandini dalam Edisi Cetak telah terbit hari ini.


Berita Lain