TAMBANG TODAY

TAMBANG, 10 Sep 2013 | 10.45

PLN: PLTU Kontraktor Cina Penyebab Pemadaman Listrik Di Sumatera

Subkhan AS
subkhan@majalahtambang.com

Jakarta-TAMBANG. Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengaku terpaksa melakukan pemadaman bergilir di daerah Sumatera khususnya di Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Riau. Hal ini disebabkan karena kurangnya pasokan listrik dikawasan tersebut.

Menurut, Humas PLN Bambang Dwiyanto, terbatasnya pasokan listrik dikawasan tersebut salah satunya disebabkan karena keterlambatan beberapa proyek Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) 10.000 MW tahap 1, seperti PLTU Teluk Asirih di Sumbar, PLTU Pangkalan Susu di Sumut dan PLTU Nagan Raya di Aceh.

Keterlambatan tersebut, lanjut Bambang Dwiyanto, karena kurang optimalnya kinerja PLTU 10.000 MW tahap 1 yang dikerjakan kontraktor dari Cina. Menurutnya, Proyek 10.000 MW tahap 1 adalah pengalaman pertama PLN bekerjasama dengan kontraktor dari China.

Selama ini, kata Bambang Dwiyanto, untuk proyek-proyek pembangkit seperti itu PLN sudah terbiasa bekerjasama dengan kontraktor dari Jepang, Jerman atau Amerika.

“Kenapa proyek2 itu terlambat. Penyebabnya komplikasi juga, seperti kontraktor yang tidak perform 100% PLTU 10000 MW tahap 1 yang dikerjakan kontraktor Cina). Kendala komunikasi (bahasa) dengan mereka, masalah pembebasan lahan, masalah sosial dan lainnya,” cetus Bambang.

Bambang Dwiyanto mengaku, sebenarnya proyek tersebut dirancang untuk mengantisipasi pertumbuhan beban listrik yang sangat tinggi pada akhir-akhir ini.

“Sebagai gambaran, tahun lalu pertumbuhan permintaan listrik mencapai 10%. Ini adalah angka pertumbuhan tertinggi selama 5 tahun terakhir. Biasanya pertumbuhan skitar 7-9 % per tahun,” ucapnya.

Tentu saja, pertumbuhan permintaan listrik tersebut jauh dari RKAP 2012 yang awalnya ditargetkan 7,5 %. Hal ini, lanjut Bambang Dwiyanto menjadi tantangan besar bagi PLN guna memenuhi kebutuhan listrik nasional sekaligus untuk mendukung pertumbuhan ekonomi nasional.

Selain tertundanya proyek pembangunan PLTU 10.000 MW, terbatasnya pasokan listrik di wilayah Sumatera juga disebabkan karena kurang maksimalnya kinerja Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

Di mana, lanjut Bambang Dwiyanto, saat masuk musim kemarau seperti saat ini, beberapa PLTA tidak bisa operasi maksimal karena debit air yang tidak cukup.

Bambang Dwiyanto mencontohkan sistem Sumbagteng yang meliputi Sumbar dan Riau yang sangat mengandalkan PLTA.

Di sistem ini setidaknya ada 4 PLTA yaitu Singkarak, Kotopanjang, Batang Agam dan Maninjau. Kondisi existing di sistem ini, lanjut Bambang Dwiyanto, 4 PLTA tersebut tidak bisa beroperasi maksimal.

“Sedangkan PLTU Ombilin sedang mengalami kerusakan dan diprediksi awal Oktober ini selesai. PLN sebenarnya sudah mempersiapkan tambahan pasokan di sistem ini dengan membangun PLTU Teluk Sirih. Namun proyek FTP 1 ini juga terrlambat penyelesaiannya,” ungkap Bambang Dwiyanto.

Kerusakan juga terjadi pada sistem kelistrikan di Sumbagut, dimana ada kerusakan di PLTU labuhan Angin dan PLTG belawan. Tambahan pasokan yang disiapkan PLN dengan membangun PLTU Pangkalan Susu juga terlambat selesainya.

Adapun upaya yang dilakukan PLN guna menjamin pasokan listrik untuk kawasan tersebut, yakni dengan membeli listrik dari PT Inalum, membeli listrik dari pembangkit swasta yang memiliki kelebihan energi listrik, sewa genset di Sumbagut sebesar 150 MW dan akan datang bulan depan, membangun beberapa pembangkit mini gas (PLTMG) target selesai 2014, dan melakukan sosialisasi hemat listrik untuk menekan pertumbuhan penggunaan listrik.

“Jadi ditargetkan bulan depan pemadaman karena kekurangan pasokan di Sumatera akan jauh berkurang,” katanya.

Namun demikian Bambang Dwiyanto, membantah terganggungnya sistem kelistrikan terganggu akibat pemeliharan dan perawatan. Karena menurutnya, selama ini PLN melakukan secara rutin perawatan pembangkit, jaringan, gardu induk, gardu distribusi tentu itu dilakukan PLN secara rutin.


Berita Lain